By
:Syaheed Asa
Ayah
bunda paling tidak mengetahui sedikit tentang seperti apa zombie itu. Ya….
Manusia yang sudah mati namun bisa bergentayangan dan berkeliaran layaknya
makhluk hidup,mengancam eksistensi manusia yang lain. Badan pucat pasi dan
penuh luka pun kulit yang rusak-rusak mewarnai penggambaran sosok zombie yang
meyeramkan di layar kaca. Ayah bunda yang peduli masa depan generasi pasti
pernah mendengar tentang masuknya ke indonesia berbagai macam jenis narkoba
baru yang mengancam ananda sejenis flakka yang menghebohkan Rusia. Begitu pun
obat-obatan sejenis PCC yang beredar di kendari dan menelan korban sekitar 30 korban anak muda di kendari
beberapa waktu yang lalu.
Ayah
bunda.. Anak-anak
yang meminum obat ilegal tersebut mengalami efek kejang, mengamuk, hingga bertingkah
seperti zombi. Obat Paracetamol, Caffeine, and Carisoprodol (PCC) yang telah
menghebohkan Kota Kendari tersebut merupakan
kombinasi penghilang rasa sakit. Jadi, saat meminum paracetamol, caffein dan
carisoprodol, nyeri yang hebat akan teratasi. "Namun, karena efek
carisoprodol yang bisa mempengaruhi saraf dan otak ini, efeknya jadi tak
karuan, apalagi kalau sekali minum tiga sampai lima tablet. Penyebabnya adalah
reaksi dari saraf pusat yang menyebabkan halusinasi dan menurunkan hingga menghilangkan
kesadaran. Akibat sangat besar pengaruhnya ke saraf, orang yang meminum obat
ini mudah merasa panik, mengalami perubahan emosi dan kehilangan kontrol.
Di dalam dunia kedokteran ketiga jenis obat
ini akan berfungsi untuk terapi penyakit, sehingga tidak ada yang salah dari
ketiga obat ini. Namun ada obat yang telah dicabut perizinannya di tahun 2004,
namun mengapa masih beredar hingga sekarang.
Kurangnya
pengawasan terhadap pengedaran obat ini siapa-siapa saja yang berhak membelinya
atau dengan kata lain obat ini memang haruslah didapatkan melalui resep dokter seperti obat jenis
carisoprodol. Motif ekonomi acapkali menjadi latar belakang semakin maraknya
beredar obat terlarang di sekitar kita. Tanpa mengindahkan akibatnya bagi
kerusakan bangsa terutama generasi para pengedar dengan nyamannya memasarkan
produknya tanpa ampun. Dengan berbagai cara hingga membuat anak-anak kita
benar-benar dalam ancaman yang besar. Ayah bunda tentu pernah pula mendengar
beberapa waktu lalu beredar narkoba yang disusupkan dalam beberapa produk
permen dan pulpen. Subhanallah..!!
Lemahnya aqidah serta keimanan kaum muslim
saat ini, seiring dengan lemahnya pemahaman Islam membuat kaum muslim mudah sekali tergiur dengan
kemaksiyatan. Baik goyahnya secara emosi sehingga melakukan pelarian kepada
obat-obatan terlarang. Maupun rela menjual benda-benda harom tersebut untuk
sekedar mereguk kenikmatan dunia yang sifatnya sementara. Kita bisa melirik
data pengedar amupun pemakai adalah rata-rata generasi muda…anak-anak kita!!
Para penerus peradaban masa depan. Terbayang jika ini yang melanda anak-anak
kita, mau dibawa kemana kelak masa depan mereka dan masa dean bangsa ini??!!
Minimnya pemahaman, kesadaran, pengawasan dan
kepedulian orangtua terhadap kondisi anak mereka sendiri turut memberi sumbangsih pada rapuhnya anak kita secara
emosi dan pemikiran. Tidak ada sekolah khusus untuk menjadi orangtua. Kebanyakan
pasangan pun siap menjadi suami istri namun belum memiliki ilmu dan kesadaran
serta kesiapan menjadi orangtua. Sehingga membekali diri dengan pemahaman yang
benar tentang bagaimana mendidik anak-anak bukanlah prioritas yang utama
terdahulu sebelum memutuskan untuk berumah tangga. Akhirnya juga kebiasaan yang
berkembang pun adalah ketidakpedulian terhadap sekitar menjadi kian meranggas
sebagaimana conto komentar ‘ ngurus anak sendiri aja udah rept gimana mau
ngurusin anak orang..’ Padahal kepedulian orangtua terhadap anaknya juga
termasuk memberi lingkungan yang baik bagi mereka. Yaitu lingkungan yang sadar
bahwa anak-anak adalah aset masa depan, investasi akhirat, perhiasan dunia,
penerus peradaban sekaligus penyejuk hati. Sehingga pengawasan dan kontrol
masyarakat semakin tinggi terhadap kesholihan anak-anak kita. Kurangnya
pemahaman orangtua tentang ilmu mendidik anak dan pertanggungjawaban mereka di
sisi Allah, membuat mereka juga lebih memilihkan gadget sebagai teman anak-anak
mereka dibanding dengan bersenda gurau dan bercengkerama juga bermain bersama.
Peran media pun tak kalah pentingnya. Apalagi
dengan pesatnya perkembangan teknologi saat ini. Belum ada sensor khusus yang
betul –betul mampu mengontrol dan mengantisipasi anak-anak kita dari bahaya
negatif media saat ini selain menjauhkan mereka dari gadget sebelum waktu yang
tepat dan pendampingan dan pengawasan kita sebagai orangtua mereka. Jika
orangtua miskin ilmu..alangkah lemahnya kewaspadaan mereka terhadap titik-titik
penting yang mengancam ananda. Informasi yang merusak aqidah malah bisa
dianggap mendidik, tontonan amoral malah dianggap positif. So, ilmu bagi orangtua
amat penting. Ilmu berdasar pemahaman aqidah islam yang benar. Yang bisa
membawa kita bersama-sama ke sugaNya kelak. Banyak orangtua yang membeiarkan
bahkan mendampingi anak mereka menggandrungi ala-ala Korea (artis, fashion dan
film, dsb). Padahal muatan negatif banyak disana. Mulai dari gaya hidup dan
berpakaian yang memang tidak islami. Bagaimana ayah bunda
mempertanggungjawabkannya nantii disisi Allah ketika anak kita lebih hapal lagu
korea dibanding ayat alquran? Lebih paham budaya Korea dibanding keteladanan
terhadap Rasulullah saw??
Dan yang paling krusial sebagai payung dari
semuanya adalah negara sebagai pelindung dan pengayom. Terbayang tidak pada
diri ayah bunda jika negara melarang atau menutup situs porno. Artinya nak kita
sedikit pun situs tersebut tidak bisa diakses dan melarang tayangan yang berbau
budaya negatif bagi anak kita ( dugem, pacaran, gosip, kekerasan, dsb).
Sehingga anak kita tidak mendapat akses contoh yang merusak dalam kehidupannya.
Telah banyak penelitian tentang besarnya pengaruh media ini, dan tidak perlu
dipertanyakan lagi. Bisa diatasi dengan kebijakan yang mendukung. Begitupun
tentang akses dan pengawasan yang ketat untuk obat-obatan sejenis PCC di atas.
Serta penerapan sangsi yang tegas tentunya ancaman ini semakin bisa diatasi.
Begitupun dengan proses penyadaran dan kebijakan yang mengkondusifkan para ayah
bunda maupun calon suami istri agar paham dan siap menjalankan peran mereka
sebagai orangtua. Sehingga kelak hadir dari rumah-rumah mereka calon pemimpin
yang mumpuni dan berakhlaqul karimah. Baik program training, dan sebagainya
maupun menyemarakkan majelis ilmu ditengah masyarakat sehingga masyakat semakin
paham dengan benar salah, baik buruk, terpuji dan tercela untuk menjadi
pegangan mereka sehari-hari dan diajarkan ke anak-anak mereka.
Tapi itu semua menjadi kabur memang…apabila
standarnya tumpang tindih dan ambigu. Seperti asas kebebasan bertingkah laku
dan berpendapat misalnya. Disatu sisi ingin melindungi generasi dari bahaya
obat-obatan terlarang dan perilaku merugikan dan negatif, terlebih lagi maksiat
pada kholiqnya, Allah Swt tapi tayangan maupun contoh real negatif (orang yang
mebuka aurot, khlawat, mabuk, dsb) dibiarkan begitu saja. Belum lagi tekanan
ekonomi akibat penerapan ekonomi kapitalis yang memang semakin memunculkan
potensi pengaruh negatif bagi seluruh kalangan masyarakat. Ini semakin
menunjukkan peran negara yang sangat krusial.
Sekali lagi perlu standar yang jelas adilnya,
jelas benarnya, jelas membawa kepada ketenangan dan kesejahteraan. Yang pasti
menjamin itu semua hanyalah tentunya dengan standar aqidah Islam dan dengan
pemahaman islam ditengah masyarakat untuk
diterapkan secara menyeluruh tanpa keraguan dalam seluruh aspek kehidupan.
Khomr (termasuk miras dan narkoba) tentu tak bisa diproduksi apalagi beredar
bebas sembarangan. Masyarakat pun dipahamkan tentang keharomannya sebagai
bagian penjagaan terhadap akal manusia, anugerah terbesar dari Allah bagi
manusia. Penerapan sangsinya pun tegas dengan lembaga peradilan Islam yang
terpercaya. Orangtua yang paham ini dan kewajibannya sebagai orangtua akan
menjaga sungguh-sungguh anak-anak mereka. Pun anak-anak dengan sistem
pendidikan islam akan tidak gampang terpengaruh, takutnya hanya kepada Allah. Juga
tidak akan melihat contoh di sekitar mereka melainkan yang baik-baik saja. Tugas
orangtua menjadi lebih ringan . Sistem ekonomi islam yang mensejahterakan
dengan kebijakan yang kondusif juga mendukung agar masyarakat tidak gelap mata
dalam menghadapi cobaan idup dan teguh memeangn keimanannya. Bagaimana dengan
yang non muslim, mereka tentulah akan mereasakan faidah yang sama dengan
penerapan syariat islam sekalipun mereka tetap dengan aqidah mereka. Jadi….ayo
berjuang bersama ananda untuk hanya taat kepada Allah dan RasulNya saja
….sehingga tidak lagi muncul zombi-zombi yang lain!![SA]
Like dan Share : FB Homeschooling PPU
![]() |
Tampilan salah 1 jenis Obat PCC, sumber gambar : google.com |
Email : hsgkuppu@gmail.com
Telp/WA : 0853 4848 9448 (Faiz Abdillah)
Telp/WA : 0853 4848 9448 (Faiz Abdillah)
Donasi, Infaq, Shodaqoh serta Dukungan dari ayah bunda untuk HSG PPU silahan klik: DONASI
0 komentar:
Posting Komentar