![]() |
sumber gambar : google.com |
Bismillah
By : Syaheed Asa
Ketika bersama ananda maupun
melihat anak orang lain, terkadang terlihat
perilaku mereka yang membuat kita tercengang dan segera mengintrospeksi diri
dan lingkungan. Contohnya ketika mereka marah saat kita menolak untuk memenuhi
keinginan mereka karena kiat merasa bahwa kita sedang tidak ingin, tidak sempat
ataupun kita merasa itu berdampak buruk bagi mereka. Kemudian mereka
mengeluarkan perkataan yang bagi kita sangat tidak baik atau kasar bahkan
bermautan ancaman. Semisal ‘klo bunda ga mau, nanda pukul ya..!’ dan
sebagainya. Atau pernah juga kita menyaksikan dua kakak beradik dari lingkungan
sekitar kita yang bertengkar karena berebut makanan, kemudian si kakak atau
adik berkata kotor, memaki bahkan menendang si adik karena makanan tadi.
Sungguh mencengangkan atau lebih tepatnya memprihatinkan.
Tentunya salah satu pertanyaan
yang muncul pertama kali adalah darimana ia mendapatkan contoh yang demikian.
Tentunya evaluasi pertama adalah jatuh kepada kita selaku orang terdekat
mereka, orang tua mereka yang bertugas mendidik mereka denga sebaik-baiknya.
Biasanya juga reaksi orangtua terhadap hal semacam ini juga beragam. Ada yang
langsung menyadari kesalahan atau segera mencari tahu sumber masalah dan
menyelesaikannya dengan penuh kasih sayang dengan anak-anak kita. Ada pula yang
bereaksi dengan cara menunjukkan kekecewaan serta kemarahan kita kepada mereka
dengan mengomeli ataupun memarahi mereka atas sikap mereka yang tidak baik atau
bahkan segera berpikir dan memberikan hukuman fisik yang dianggap pantas untu
mereka terima.
Anak kita dalam proses tumbuh
kembangnya apalagi dalm usia dini, banyak belajar dari lingkungan sekitarnya .
Haruslah disadari bahwa proses imitasi atau duplikasi adalah bagian dari proses belajar mereka dan
menjadi bekal bagi mereka kelak dalam menjalani masa depan kehidupan mereka
sendiri. Apa yang terjadi pada anak kita, sedikitnya seperti contoh kasus diatas
tidak lain ada beberapa hal yang mempengaruhinya, antara lain :
• Tauladan
dari ayah bunda ( bisa keduanya, bisa juga dari ayah saja atau bunda
saja)
• Lingkungan
rumah berupa keluarga besar (karena perbedaan pemahaman tentang cara
mendidik anak, perbedaan karakter, dsb)
• Tayangan dan tontonan
• Lingkungan
sekolah
• Lingkungan tetangga dan teman
Inilah yang bisa mempengaruhi
perilaku negatif atau kekerasan pada anak kita sehingga menduplikasi bahkan
sampai mereka dewasa. Dan hal ini kemudian akan mereka teruskan kepada
lingkungan sekitar bahkan keturunan mereka. Inilah yang terjadi pada lingkungan
kita saat ini. Begitu banyak contoh kekerasan sehingga duplikasi kekerasan menjadi
sesuatu yang berlangsung cepat dan massif ditengah anak-anak kita dan menghantui
masa depan mereka.
Bagaimana mencegah atau
meminimalisir mereka dari pengaruh kekerasan yang dapat merusak kepribadian
sholih sholihah yang ingin kita bentuk terhadap anak-anak kita. Maka harus
berangkat dari menganalisa darimana pengaruh paling besar terhadap proses
duplikasi kekerasan yang terjadi pada mereka. Dan memang kita harus jujur terhadap diri kita
sendiri sejauh mana kita memberikan pengaruh buruk pada kepribadian anak-anak
kita. Bahkan kita adalah orang-orang yang harus pertama kali siap mengubah
kebiasaan mengeluarkan kata yang buruk ataupun sikap yang tidak baik.
Berikut tips yang bisa kita amalkan untuk men’stop’
duplikasi kekerasan yang terjadi pada anak kita:
Bekali
diri kita dengan ilmu yang cukup untuk menjadi orangtua sekaligus teladan yang
baik bagi anak kita dan lingkungan
sekitar. Islam adalah agama yang sempurna dan memiliki khasanah ilmu yang
lengkap tentang mendidik anak agar menjadi generasi qurrota a’yun dan muttaqiena
imaama. Ingat bahwa tidak ada kata berhenti belajar sampai kita sampai ke
liang lahat. Ilmu agama dan ilmu tentang tumbuh kembang anak tentunya. Ilmu
juga membantu kita untuk lebih bisa mengendalikan diri dalam menghadapi masalah
dalam mendidik anak. Ikutilah pembinaan islam yang bersifat intensif. Agar ilmu
kita senantiasa bertambah dan terarah.
Perbanyaklah
Sharing terkait dengan penanganan
masalah anak yang benar, bagaimana kita belajar untuk berubah dan memperbaiki
diri. Bisa dengan mengikuti grup parenting dan sebagainya. Jangan lupa mitra
sharing kita yang utama adalah suami sebagai kepala rumah tangga kita.
Buat
program utnuk mengisi waktu anak kita dengan kegiatan yang membantu mereka
untuk semakin taat kepada Allah swt dan meningkatakan kecerdasan dan kretifitas
mereka seperti membuat prakarya, memancing, berkebun, berkunjung ke
pepustakaan, dsb. Sehingga mereka tidak fokus kepada tontonan. Apalgi yang
memiliki muatan kekerasan baik fisik maupun perkataan yang tidak baik/ahsan.
Carilah
sekolah yang punya satu visi dengan kita. Kita harus jeli dalam memilih tempat
anak-anak kita belajar dan berinteraksi. Sekolah tersebut bisa kita yakini
menjadi mitra yang kompak dalam membentuk kepribadian islam yang kuat dalam
diri anak kita.
Selain
melakukan pengawasan terhadap tontonan, kontrol kita dalam memilih teman dan
lingkungan bergaul bagi anak kita juga penting. Semakin dewasa maka semakin
kecil ketergantungan terhadap kita dan semakin besar pula kebutuhan mereka
untuk bersosialisasi. Ini pun mengharuskan kita memberi teladan sekaligus
menjalankan kewajiban kita untuk amar ma’ruf nahyi munkar sehingga kita
bisa menularkan visi kita terhadap terwujudnya generasi yang berkarakter sholih
sholihah dan pemimpin ditengah umat.
Jangan lupa untuk menyertai setiap usaha dan
langkah kita dengan doa. [SA]
Semoga bermanfaat….!
Like dan Share : FB Homeschooling PPU
Email : hsgkuppu@gmail.com
Telp/WA : 0853 4848 9448 (Faiz Abdillah)
Email : hsgkuppu@gmail.com
Telp/WA : 0853 4848 9448 (Faiz Abdillah)
Donasi, Infaq, Shodaqoh serta Dukungan dari ayah bunda untuk HSG PPU silahan klik: DONASI
0 komentar:
Posting Komentar